Balai Arkeologi Maluku Gandeng Dispudbar dan Diknas Tikep Pernalkan Situs Sejarah Tidore

  • Whatsapp
banner 468x60

TIDORE,MPe- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Pusat Penilitian Arkologi Nasional melalui Balai Arkelogi Maluku menggelarkan lomba untuk mengangkat situs-situs arkelogi dan sejarah Tidore dengan tujuan memperkenalkan kepada siswa dan guru.

Pelaksanaan kegiatan lomba tersebut mengambil tema”Sekolah Cerdas Perdaban Tidore” dengan menggandeng Dinas Kebudayaan dan Parawisata dan Dinas Pendidikan yang berlangsung di aula SMA Negeri 1 Tidore, Rabu (24/11/2021).

Koordinator Rumah Peradaban Tidore Balai Arkelogi Maluku Mujab mengatakan, dari lomba yang diikuti oleh siswa dan guru dalam Sekolah Cerdas Perdaban Tidore sebanyak 100 orang lebih yang terdiri dari 13 Sekolah SMP di Kota Tidore Kepulauan dengan berbeda mata lomba seperti, untuk guru lomba presentasi photo selfi situs arekologi dan siswa cerdas cermat.

“Dari 13 sekolah yang terdaftar mengikuti lomba itu, akan memilih lima objek peradabab di Tidore yang berbeda. Setalah itu dikirim kepada kami untuk dinilai, baru kemudian diposting ke instragram Rumah Peradaban Tidore, dan apabila mempunyai nilai promosi maka di undang mengikuti lomba final,”katanya.

Sementara objek yang difokuskan dalam photo selfi itu, seperti objek situs sejarah, benda, artefak, bangunan, dan lainnya dengan masing-masing tim yang berjumlah 3 orang siswa dan ditambah 1 orang guru pendamping.

Menurutnya dia, dalam perlombaan kami mengundang perwakilan dari masing-masing siswa untuk membagi buku pengayaan tentang situs sejarah di Toloa, maupun membuat pameran arkelogi dengan menampilkan berbagai poster poster yang didalamnya menginformasikan tentang arkelogi di berbagai tempat maupun situs sejarah di Tidore.

“Jadi dalam proses lomba yang diikuti itu, dari masing-masing sekolah mewakili gurunya untuk mempresentasikan hasil dari kunjungan bersama siswa ke situs-situs arkelogi dan sejarah di Tidore, sedangkan lomba cerdas cermat siswa fokusnya kepada situs sejarah Tidore dan ditanyakan oleh dewan juri,”ungkapnya.

Dia menambahkan, untuk presentasi hasil kunjungi ke situs-situs sejarah dari dewan juri memberikan nilai 40 persen, dan lomba cerdas cermat yang diwakili siswa dengan nilai 60 persen.

“Maka dari itu, bobot nilai guru 40 persen ditambahkan bobot nilai siswa 60 persen sehingga menghasilkan juara, yaitu juara 1 dari SMP Negeri 1 Tidore dengan nilai 75,01 disertai uang pembinaan sebesar Rp3.000.000 dan ditambah piala dan piagam penghargaan, juara 2 SMP Muhammadiyah 3 nilai 72,93 disertai uang pembinaan Rp. 2.500.000 dan piala, juara 3 SMP Muhammadiyah 1 nilai 67,92 disertai uang pembinaan Rp. 2.000.000 disertai piala, juara 4 dengan nilai SMPIT Citra Umat nilai 60,13 disertai uang pembinaan Rp1.500.000, dan juara 5 SMP Nurul Insan dengan nilai 49,85 disertai uang pembinaan sebesar Rp. 1.000.000,”jelasnya.

Hasil lomba yang dipresentasikan oleh guru maupun siswa dalam cerdas cermat masing-masing 10 menit dengan berbagai penilaian dari dewan juri, seperti dari aspek penyampaian sistematis, gestur tubuh peserta lomba, kreatifitas dalam penyajian materi.

Sebelumnya melaksanakan lomba tersebut, tim Balai Arkelogi berserta siswa-siswi dan guru mengunjugi situs arekologi di Kelurahan Toloa dan mendapatkan kuliah umum dari Sekretaris Kesultanan Tidore tentang situs arkelogi di Toloa.

Situs arkelogi yang berada di Toloa itu, sebelumnya sudah ada penilitian yang dilakukan oleh Sahrudin Mansur, salah satu mantan peniliti di Balai Arkelogi Maluku dan sekarang sudah pindah tugas di Sulawesi Selatan.

“Kebutulan beliau pernah melakukan penilitian di Toloa pada tahun 2019 sebab di Toloa merupakan sebuah pusat peradaban Kesultanan Tidore yang akhirnya berpindah sampai ke Soasio. Dan di Toloa itu, dianggap sebagai benteng terkuat pada saat itu, bahkan dari segi arkelogi sangat kaya akan jejak-jejak benteng dan permukiman warga sejak dulu,”paparnya.

Mengapa tidak kunjungi ke situs-situs arkelogi di kelurahan lain, kata Mujab, bahwa sebenarnya penilitian terakhir kami di Toloa sehingga secara objektif, situs arkelogi maish mewakili untuk dilihat di permukaan tanah

“Jadi situs yang kami angkat di Rumah Peradaban seperti, Ternate, Tobelo, dan Morotai, sedangkan di Tidore belum. Makanya, baru awal datang ke Tidore, tentunya situs arkolegi di Toloa mestinya diangkat dan dipernalkan ke siswa-siswi maupun guru, bahkan kepada masyarakat umum supaya mereka ketahui,”tambah Mujab.

Terpisah, guru SMP Muhammadiyah 1 Tidore Muhammad Ismail saat ditemui usai lomba menjelaskan, walaupun sekolah kami mendapat juara 3, tetapi bukan juara yang menjadi target kita.

“Maka dari presentasi itu, Balai Arkelogi Maluku memberikan kami lima jenis foto yang berbeda sehingga kami mengambil resiko dengan satu objek yang sama. Dan setelah dilakukan penulusuran sehingga mendapatkan situs-situs peninggalan Tidore yang dipilih adalah a benteng dengan kondisi yang rusak, bahkan tertingggal puing-puing sehingga merasa peduli tentang kegiatan ini untuk tetap dirawat dan dilestarikan ,”ujarnya.

Diharapkan dari penyampain materi paska lomba ini bisa dimengerti dan dipahami oleh siswa-siswi peserta lomba untuk mengatahui berbagai objek arkelogi, situs, maupun artefak di Tidore. (len)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *