Belajar, Kemerdekaan dan Kemanusiaan Dari Buku Bang Gha, Ini Yang Dibedah

  • Whatsapp
banner 468x60

Catatan Mansyur Armain

TIDORE,MPe- Buku yang ditulis oleh M. Asgar Saleh tentang Belajar, Kemerdekaan, dan Kemunusiaan, Esai-esai Transformasi Kehiduupan dibedah secara resmi dari Majelis Daerah (MD) Korps Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kota Tidore Kepulauan yang berlangsung di kedai Coffe Rumah Tua, Kelurahan Indonesiana, Kota Tidore Kepulauan, Jumat, (26/11/2021) malam.

Diskusi tersebut, MD Kahmi Tikep menghadirkan, Eks Jurnalis Jawa Post Grup Abdullah Dahlan, dan Presidium Kahmi Kota Tikep Ardiasyah Fauji sebagai pembedah buku M. Asgar Saleh atau disapa Bang Gha.

Penulis buku Belajar, Kemerdekaan, dan Kemanusiaan, Bang Gha dalam pengantarnya mengatakan, sebenarnya buku yang sederhana ini disongara oleh Dr Herman Oesman dan seharusnya diterbitkan di tahun 2020, namun dalam kondisi pendemi Covid-19 sehingga tertunda dan bukunya baru dicetak di tahun 2021.

Bang Gha menceritakan, ketika ia diminta memberi tanggapan terhadap buku yang diterbitkan oleh Majelis KAHMI Wilayah Maluku Utara, tetapi seharusnya yang disoroti adalah kepedulian pemerintah derah tentang nasib penulis-penulis lokal di Maluku Utara.

“Banyak teman-teman yang punya kapasitas penulis yang tulisannya layak dibukuhkan untuk nasib kemanusiaan di Maluku Utara, akan tetapi Ternate tidak ada percetakan dan penerbit sehingga kita harus mengirim ke Jogjakarta maupun Jakarta untuk dicetak,”singkat Bang Gha.

Menurutnya, dalam buku edisi pertama tentang Belajar, Kemerdekaan, dan Kemanusiaan ini dicetak hanya 50 eksmplar dan sudah sedakahkan ke perpustakaan di Ternate maupun di Komunitas dan penulis di Ternate.

“Simpel saja, kalau buku ini yang didalamnya termuat berbagai tulisan seperti, bicara tentang bola, politik, Ternate, dan beberapa tokoh sejarah yang bagi saya, sengaja dilupakan,”paparnya.

Ia menjelaskan, di beberapa bulan lalu, Bang Gha mencoba menulis tentang Radio. Di dalam tulisan Radio itu, ternyata banyak temukan nama Indonesiana, ketika yang mulia Sultan Zainal Abidin Syah diangkat menjadi gubernur Irian Barat dan Soasio ditetapkan sebagai ibukota Provinsi dan membutuhkan perkantoran baru.

Bahkan di waktu itu, Bang Gha bilang, terdapat beberapa ritual seperti tolak gumi dengan membacakan doa dan memotong kelapa untuk membuat pemukiman baru yang disebut Indonesiana, artinya“Indonesia ada disana”. Tentunya secara geopolitik, politik Tidore dan Indonesia yang menganggap disana itu menunjukan Papua bagian dari Tidore dan KNKRI.

“Ini sekedar merefleksikan kembali perkataan dari Bung Karno bahwa, tanpa Tidore NKRI tidak utuh sampai saat ini,”tuturnya.

Buku yang ditulis oleh M. Asgar Saleh tentang Belajar, Kemerdekaan, dan Kemunusiaan, Esai-esai Transformasi Kehiduupan dibedah secara resmi dari Majelis Daerah (MD) Korps Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kota Tidore Kepulauan yang berlangsung di kedai Coffe Rumah Tua, Kelurahan Indonesiana, Kota Tidore Kepulauan, Jumat, (26/11/2021) malam

Untuk itu, penulis dalam pandangan Bang Gha, bukan profesi yang harus dibanggakan, akan tetapi disitu ada kepuasan-kepuasan batin orang untuk membaca tulisannya supaya lebih bermanfaat.

Di dalam buku Bang Gha ini, terdapat beberapa nama jalan yang disebutkan dalam tulisannya, yang mulai dari jaman Orde baru hingga saat kini, tidak diganti-ganti seperti, Neolboang, A.M Kamarudin, Salim Fabanyo,Ornol Mononutu.

“Saya saat itu, ditantang siapa sosok-sosok A.M Kamarudin lebih sering dipanggil Om Sau yang dikenal sebagai perintis kemerdekaan yang mendapat penghargaan dari Presiden pak Bintang Mahaputra, terlibat dalam perjuangan bangsa Indonesia dan sempat dibuang ke Bovel Digul, maupun terlibat dalam perjuangan pembentukan Provinsi Maluku Utara, lalu ditangkap dan dibaung ke Nusa Kembangan, dan torang generasi saat ini lupa,”ungkapnya.

Menulis itu penting seperti, perkataan Pram “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah,”kutip Bang Gha.

Terpisah, eks Jurnalis Jawa Post Grup Abdullah Dahlan berpandangan, bahwa budaya membaca dan menulis sangat jelas tertuang dalam surat Al-Allaq. Demi mengembangkan literasi harus ditumbuhkembangkan, menurut dia, khususnya di Tidore, budaya tutur dan dengar itu jauh, ketimbang budaya baca dan menulis.

“Itulah budaya kita agak terseok-seok, karena dari generasi ke genarasi bukannya membaca dan menulis, tetapi budaya tutur dan mendengar. Padahal kita coba masuk dalam doktrin Islam, sangat jelas dalam surat Al-qalam, dan Allah mempertegas bahwa pentingnya untuk menulis,”tegas penulis buku Ternate Meluru dan ketua KPU Kota Tikep.

Esai-esai Belajar, Kemerdekaan, dan Kemunisiaan yang ditulis oleh Bang Gha ini, ada beberapa tulisannya sudah terpublikasi di media.

”Makanya, kurang lebih 13 tahun di dunia Jurnalis, saya banyak belajar dari Bang Gha. Bahkan ada beberapa penulis jurnalis sebelumnya telah menghibahkan ilmunya kepada saya, salah satunya Bang Gha, dan Bang Herman Oesman yang menjadi editor buku saya yang diberi judul “Ternate Meluru” dan dicetak di tahun 2012 lalu,”teranya.

Buku saya ini agak unik, karena buku berita. Sebab Bang Gha dulu, pernah menjadi Jurnalis di Ternate Post dan Mimbar Kie Raha. Saya paling rajin mengoleksi tentang tulisan-tulisan yang berada di kolom khusus Ternate Post itu, “Jubi,”katanya.

Sangat gampang membaca buku Bang Gha ini, Bang Alud mengatakan, baik dimulai dari Bab 1 juga bisa, maupun membacanya di Bab akhirpun bisa. Sebenarnya, dalam buku tersebut, Bang Gha mecoba mencantumkan data-data tahun 2008 yang masi lama seperti, pertumbahan ekonomi Kota Ternate, akan tetapi paling tidak ada komperatif dengan data Kota Ternate saat ini.

“Sebetulnya saya lebih tertarik membaca satu judul tulisan dari Bang Gha yaitu “Dari Babullah, Wallace, Sampah, Banjir, dan Mati lampu” dikarenakan Bang Gha punya kemampuan menulis tentang di era Babullah sampai di era terkini dan mati lampu sangat kuat,”ucapnya.

Dengan judul tulisan itu, ada salah satu orang berpendapat seperti, Dr. Qomarudin Hidayat yang menyampaikan, kota-kota pantai sebelumnya adalah pusat perdagangan dan pusat peradaban. Sebut saja, Ternate bagian dari kota pantai. Tetapi seiring waktu, kota-kota pantai yang kuat dengan peradaban itu mengalami kegaduhan yang sangat drastis.

“Tulisan itu, Ternate di jaman dulu begitu hebat dengan masa sejarahnya, yang berinteraksi dengan jalur rempah-rempah, sekarang mengalami kemorosotan. Dan sampai saat ini, Ternate hanya mengusit sampah dan air,”ujarnya.

Ada juga tulisan tentang, lanjut dia, “Di lumbung ikan Untuk siapa” datanya masih datanya BPS yang cukup jauh interval waktunya. Paling tidak, bahwa data BPS tentang profesi sebagai nelayan ini data masih tahun 2012.

Kita tentunya, sedikit mengalami hambatan persoalan data. Apalagi data itu harus berurusan dengan pemerintah, kroscek di lapangan dan mungkin abang Gha masih kesulitan mendapatkan data yang terabdate dalam memperkuat tulisan. Makanya, dari setiap tulisan, ia mencoba mencari hikmah dari setiap tulisan tersebut, supaya menambah pengetahuan maupun mencoba menyelesaikan berbagai problem.

Presidium Kahmi Kota Tikep Ardiansyah Fauji menilai, walaupun buku Bang Gha baru membaca hampir tiga jam, ada sekitar 30 tulisan yang dalam bukunya, hampir sebagian besar mengooleksi buku Goenawan Muhammad, bukan membandingkan, namun agak merasa sedikit kemiripan dengan tulisan Caping.
Untuk membaca Babullah, kita dibawa ke masanya, telah menguasai 72 pulau dan banyak catatan menahan 100 tahun impralisme untuk masuk ke Nusantara, kemudian ada sebuah sinema yang bagi Bang Gha, mecoba memotret ibu-ibu kita yang menyukai epos Maharabrata.

Apabila epos tersebut hidup di abad 15, mungkin kita tidak ada kesulitan mencari narasi sejarah tentang orang-orang hebat
”Kalau tidak ada Babullah, kita tidak mungkin dijajah sekitar 400-500 tahun, karena Babullah imperalisme dipotong 100 tahun.

Dengan membaca Babullah saya seperti menemukan diri saya, dan oleh Intan Pamarita disebut “Fleneur”. Orang-orang muda takjub, tetapi saya mencoba menjadi fleneur dalam cacatan Bang Gha,”ucap penulis dan novelis ini. Pada akhirnya, ia harus menjadi Badaud. “Kalau Badaud itu, beda dengan Flaneur (orang yang kagum, tetapi kritis). Tentunya dari buku Bang Gha ini, ia tidak hampir mengkritisi tulisan-tulisannya.

“Ini bukan janji, tetapi saya memastikan bahwa, apabila ada hal yang perlu dikritisi maka saya akan buat dalam bentuk tulisan, entah tiga hari kedepan dan sebagai janji agar Bang Ga tidak kecewa datang di Tidore, dan berharap menemukan sesuatu yang wah dari reviu dan tidak menemukan hal tersebut,”terangnya.

Dengan tulisan Bang Gha, kita banyak belajar banyak hal. Tetapi Bang Gha coba memotret satu situsi yang lain dengan cara cukup unik, ketika dia bicara tentang sejarah yang didalamnya terdapat fenomena religiusitas, dunia olahraga dan pada fase Femenisme.

“Kebanyakan tulisan yang menggulitik di dalam buku ini, terutama Nukila. Sebanarnya itulah gambaran kepada kita bahwa ada setiap perempuan di penanda jaman. Tentunya cerita kepahlawanan di Nusantara tidak hanya bicara tentang laki-laki, tetapi berbicara terkait perempuan,”ujarnya.

Hadir dalam diskusi dan bedah buku Bang Gha, pemuda Indonesiana, Jurnalis Tidore, pegiat Literasi, Fospar Maluku Utara, Forhati Tikep, pengurus HMI Cabang Tidore,Founder Syukur Dofu Founddatiion dan ketua DPC Gekrafs Tidore, Pemuda Muhammadiyah Kota Tikep, pengurus FKKPI, dan Mahasiswa Universitas Nuku. (**)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *